Dua parabel sepuluh gadis bijak terdapat dalam khotbah tentang hari terakhir Yesus (Matius 24–25). Lima gadis bijak membawa minyak tambahan; lima gadis bodoh tidak mempersiapkan diri. Ketika mempelai pria terlambat datang, lampu gadis yang kekurangan minyak padam — pintu pesta ditutup ketika mereka kembali terlambat.
Poin Penting
Minyak sering dipahami sebagai kesiapan batin — iman, kasih, doa — yang tidak dapat “dipinjam” secara sembarangan dari orang lain pada saat-saat terakhir. Parabel ini tidak mendorong egoisme tetapi menekankan tanggung jawab pribadi di hadapan Tuhan.
Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun jamnya.
— Matius 25:13 (sesuai dengan berbagai terjemahan)Hindari Salah Paham
Gambaran pernikahan và gadis-gadis yang melayani menciptakan konteks budaya; parabel ini tidak boleh digunakan untuk merendahkan orang lain atau mengubah “minyak” menjadi hukum yang kaku. Fokusnya adalah hidup siap sedia menyambut Sang Datang.
Keterlambatan Mempelai Pria dan Kehidupan Nyata
Dalam parabel ini, keterlambatan bukanlah “kesalahan rencana” Tuhan tetapi merupakan ujian sejati dari iman: banyak generasi Kristen telah hidup dan mati tanpa melihat hari kiamat secara terbuka. Itu mengajarkan kita bersiap setiap hari — melalui Sakramen, Firman Tuhan, dan perbuatan baik — alih-alih menebak waktu atau panik. Artikel ini sengaja tidak mengulangi panjang lebar tentang “kehidupan” lain mengenai doa; hanya menekankan: berjaga-jaga adalah kebiasaan, bukan perasaan sesaat.
Hubungan dengan Dua Parabel Selanjutnya
Segera setelah bagian này, Matius 25 cũng menyajikan parabel tentang talenta dan penghakiman terakhir (domba dan kambing). Ketiga bagian ini mengingatkan: kesiapan bukan hanya “menunggu” tetapi juga menggunakan karunia yang telah diterima untuk melayani sesama — terutama yang terkecil. Saat merenungkan sepuluh gadis bijak, sebaiknya membuka beberapa ayat berikut untuk menghindari memisahkan parabel dari keseluruhan khotbah Yesus.
Minyak dalam Kehidupan Sehari-hari: Sakramen dan Perbuatan Baik Kecil
“Membawa minyak tambahan” dapat mengingatkan pada pengakuan dosa secara berkala, Misa Minggu, dan perbuatan kasih yang konkret — bukan untuk mengumpulkan poin tetapi untuk memelihara cinta agar lampu tidak padam ketika kehidupan lambat atau ujian berkepanjangan. Sebuah minggu yang sibuk masih bisa “menambah minyak” dengan sepuluh menit hening di hadapan Sakramen Mahakudus atau mengirim pesan penghiburan kepada orang yang kesepian.
Ringkasan
- Berbasis Matius 25 — tentang menunggu Tuhan.
- Minyak: kesiapan batin, tidak bisa dipindahkan secara sembarangan.
- Mempelai pria terlambat — ujian kesabaran.
- Kesimpulan: berjaga-jaga.


