Perjanjian kasih karunia adalah rencana penebusan Allah yang tunggal di sepanjang Kitab Suci, yang menyatakan satu Juruselamat (Yesus Kristus), satu umat (orang Yahudi dan bukan Yahudi yang dipersatukan dalam Gereja), dan satu tujuan (mengumpulkan bangsa yang kudus bagi kemuliaan-Nya). Perjanjian ini dinyatakan secara bertahap dari Kejadian hingga Wahyu.
Apakah Perjanjian Kasih Karunia Itu?
Perjanjian kasih karunia adalah kisah tunggal yang terus berkembang tentang belas kasihan Allah terhadap manusia yang telah jatuh dalam dosa. Segera setelah kejatuhan, Allah menjanjikan seorang Penebus, menetapkan perjanjian yang penuh kasih karunia berdasarkan kesetiaan ilahi, bukan jasa manusia. Sepanjang sejarah keselamatan, Allah mengelola satu perjanjian ini melalui berbagai perjanjian historis dengan Nuh, Abraham, Musa, dan Daud. Meskipun bentuk pengelolaannya berubah, hakikatnya tetap sama: keselamatan oleh kasih karunia melalui iman kepada Mesias yang dijanjikan. Kerangka ini mencegah kita memandang kedua Perjanjian sebagai sesuatu yang terpisah. Sebaliknya, hal ini menyatakan suatu permadani yang berkesinambungan di mana Allah secara bertahap menyatakan rencana-Nya untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, yang mencapai puncaknya dengan sempurna dalam pribadi dan karya Yesus Kristus. Inilah benang emas yang menjalin seluruh kisah Alkitab menjadi satu.
Bagaimana Kitab Suci Menyatakan Satu Juruselamat?

Di jantung perjanjian yang tunggal ini terdapat satu Juruselamat: Yesus Kristus. Dialah hakikat dan pengantara dari setiap pengelolaan perjanjian dalam Alkitab. Orang-orang kudus Perjanjian Lama menantikan kedatangan-Nya, sementara orang-orang percaya Perjanjian Baru menoleh ke belakang pada karya-Nya yang telah selesai. Menurut Ibrani 9:15:
Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan.Kristus adalah Benih Abraham yang sejati dan Raja kekal dari keturunan Daud. Tidak ada nama lain yang olehnya kita diselamatkan. Mengakui satu Juruselamat meruntuhkan setiap teologi yang menyatakan bahwa orang-orang percaya Perjanjian Lama diselamatkan dengan cara yang berbeda. Dari Eden hingga Yerusalem baru, Injil tetap berpusat pada korban penebusan Kristus.
Mengapa Hanya Ada Satu Umat Allah?

Perjanjian kasih karunia menciptakan satu umat yang bersatu. Janji Allah kepada Abraham selalu dimaksudkan untuk memberkati semua bangsa, bukan hanya Israel. Dalam Perjanjian Baru, tembok pemisah antara orang Yahudi dan bukan Yahudi diruntuhkan. Seperti yang dinyatakan Paulus dalam Efesus 2:14:
Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.Gereja adalah perluasan dan penggenapan umat Allah yang dahulu, yang dicangkokkan ke dalam satu pohon zaitun. Kesatuan yang mendalam ini berarti perbedaan etnis dan budaya tidak lagi menentukan kedudukan kita di hadapan Allah. Kita dibaptis ke dalam satu tubuh, berbagi satu Roh, dan dipanggil untuk hidup dalam keharmonisan yang radikal sebagai keturunan Abraham yang sejati.
Apakah Tujuan Akhir Allah dalam Perjanjian Itu?
Tujuan teleologis Allah dalam perjanjian kasih karunia adalah mengumpulkan umat dari setiap bangsa bagi pujian kemuliaan-Nya. Tujuan misional ini menggerakkan seluruh narasi Alkitab. Allah menyelamatkan kita untuk membentuk suatu imamat yang rajani. Seperti yang ditulis Petrus dalam 1 Petrus 2:9:
Tetapi kamu adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus... supaya kamu memberitakan pujian-pujian bagi Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan.Tujuan ini mencapai puncaknya dalam Kitab Wahyu, di mana suatu kumpulan besar dari setiap suku dan bangsa menyembah di hadapan takhta. Perjanjian itu pada akhirnya bersifat doksologis, memulihkan hubungan Pencipta dengan ciptaan sehingga kasih Allah dipuji secara kekal oleh keluarga yang telah ditebus dan bersifat multietnis. Inilah takdir akhir dari Gereja.
Bagaimana Kesatuan Perjanjian Mempengaruhi Misi Kristen?
Memahami perjanjian kasih karunia secara mendalam membentuk misi kita. Jika hanya ada satu Juruselamat dan satu umat, maka pemberitaan Injil kita harus diarahkan kepada semua orang. Amanat Agung menggenapi janji perjanjian Allah untuk memberkati segala bangsa. Lebih jauh, kesatuan ini menuntut rekonsiliasi rasial yang aktif di dalam Gereja. Kita tidak dapat mengasihi Sang Juruselamat sementara merendahkan umat-Nya. Bagi orang percaya yang bergumul dengan kepastian keselamatan, kerangka ini menawarkan penghiburan pastoral yang mendalam: keselamatanmu bersandar pada perjanjian yang penuh kasih karunia dan tak terpatahkan yang dijamin oleh Kristus, bukan pada kinerjamu yang naik-turun. Kenyataan teologis ini mengubah interaksi kita sehari-hari, mendorong kita untuk meruntuhkan penghalang-penghalang modern sebagaimana Kristus telah meruntuhkan penghalang-penghalang kuno. Kita dipanggil untuk membangun gereja-gereja yang mencerminkan keindahan multietnis dan bersatu dari kota surgawi.
Poin-Poin Utama
- Perjanjian kasih karunia adalah rencana keselamatan Allah yang tunggal dan bersatu, yang terbentang dari Kejadian hingga Wahyu.
- Yesus Kristus adalah satu-satunya perantara dan hakikat perjanjian itu, yang menyelamatkan orang percaya di sepanjang segala zaman.
- Orang Yahudi dan orang bukan Yahudi dipersatukan sebagai satu umat di dalam Gereja, menggenapi janji kepada Abraham.
- Tujuan akhir Allah bersifat doksologis: mengumpulkan umat yang multietnis untuk memberitakan pujian-pujian bagi-Nya.
Kesimpulan
Perjanjian kasih karunia dengan indah menyatukan seluruh narasi Alkitab. Dengan mengenali satu Juruselamat, satu umat, dan satu tujuan, kita memperoleh pemahaman yang utuh tentang Kitab Suci yang mengobarkan penyembahan dan misi kita. Rangkullah kebenaran yang mulia ini, dan biarkanlah itu menjadi jangkar imanmu hari ini.



