Hidup yang saleh tidak menjawab semua pertanyaan tentang rasa sakit dengan rumus. Yesus Kristus benar-benar menderita di kayu salib; Dia tidak menjanjikan bebas dari cobaan tetapi menjanjikan kehadiran dan kehidupan setelah mati. Ketika sakit, kehilangan, depresi, atau ketidakadilan — hendaklah berteriak kepada Tuhan seperti dalam Mazmur; mohon minyak urapan bagi yang sakit jika memungkinkan; minta bantuan dokter dan terapi; agar komunitas membawa makanan dan berdoa. Hindari nasihat menyakitkan seperti “ini terjadi karena dosa.”
Harapan yang berbeda dari optimisme palsu
Harapan Kristiani mengarah pada kebangkitan dan pembaruan akhir — dapat hidup berdampingan dengan air mata hari ini. Mengangkat salib berarti tidak sendirian: Gereja adalah tubuh, kita saling mengangkat.
“Tuhan dekat dengan orang-orang yang patah hati.”
— Mazmur 34:18 (referensi — Tuhan dekat dengan orang yang patah hati)
Ketika perlu ahli
Kesalehan melengkapi perawatan kesehatan mental, bukan menggantikannya. Jika ada pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan darurat setempat.
Sakramen, Misa, dan “Hanya Tuhan yang mengerti”
Menerima komuni dalam sakit (ketika diizinkan) atau mengikuti Misa melalui televisi ketika tidak bisa keluar rumah tetap bisa menjadi persembahan seluruh rasa sakit sebagai korban — bukan untuk “membalas budi” tetapi untuk tinggal dalam tubuh Kristus. Pada saat yang sama, kalimat “Tuhan memiliki rencana-Nya sendiri” bisa menjadi kata penghibur yang tidak disengaja jika kurang kehadiran yang nyata: mengunjungi, diam bersama, atau membantu pekerjaan rumah. Artikel ini sengaja tidak mengulangi seluruh ajaran tentang rasa sakit dalam Katekismus; hanya menekankan komuni konkret sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kekristenan.
Harapan dan proses berduka
Banyak orang setelah berkabung, diagnosis berat, atau cedera jangka panjang membutuhkan waktu untuk meratapi — Mazmur telah mengajarkan hal itu sebelum kita. Harapan Kristiani tidak memaksa kita untuk segera “bersukacita” tetapi mengundang kita untuk percaya bahwa Tuhan tetap memegang kita dalam malam yang belum sirna. Jika sedang dalam masa kelam, pilihlah seseorang yang dapat dipercaya di paroki dan bicaralah dengan jujur; itu juga merupakan bentuk doa.


